Pemberitaan Media Daring di NTT Terkait Isu Difabel Masih Minim

Home / Berita / Pemberitaan Media Daring di NTT Terkait Isu Difabel Masih Minim
Pemberitaan Media Daring di NTT Terkait Isu Difabel Masih Minim Dr. Lukas S. Ispandriarno, Dosen ilmu komunikasi Universitas Atma Jaya Yogyakarta. (Foto: Yohanis Tkikhau/TIMES Indonesia)

TIMESKUPANG, KUPANG – Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Dr. Lukas S. Ispandriarno menyebut peran media dalam jaringan (media daring) di Nusa Tenggara Timur (NTT) belum maksimal dalam mengangkat isu difabel.

Hal tersebut didasarkan atas hasil riset yang dilakukan terhadap lima media daring di NTT. Media-media tersebut antara lain, Tribunnews Pos Kupang, zonalinenews, nttonlinenow, sergap dan antara news.

Riset yang dilakukannya melihat pada jumlah berita dari ke lima daring tersebut terkait difabel di NTT. Pada tahun 2018, berita yang diterbitkan Pos Kupang terkait difabel sebanyak 27 berita. Kemudian menyusul Zonalinenews sebanyak 3 berita, nttonlinenow 2 berita serta sergap dan antara news masing-masing 1 berita.

Pada tahun 2019, Pos Kupang menerbitkan 31 berita, zonalinenews 6 berita, nttonlinenow 5 berita, menyusul antara news 4 berita serta sergap 2 berita.

"Media masih sangat-sangat kurang dalam memberitakan tentang isu difabel. Media sebesar Pos Kupang saja hanya 31 berita dalam satu tahun," ujar Lukas pada saat menyampaikan  materi dalam Konferensi Tahunan Keadilan Sosial di Hotel Neo Aston Kupang, Rabu (4/12/2019).

Tidak hanya itu, ia juga menegaskan tentang judul berita dan keberpihakan pada kaum difabel sebagai upaya mengangkat kaum difabel.

"Sudah ada pemberitaan tentang isu disabilitas, namun bagaimana mengangkat dari prespektif difabel itu yang masih jarang," tegasnya.

Menurutnya, keberpihakan media sebagai penyambung lidah bagi masyarakat untuk mengangkat isu-isu difabel sangat penting untuk mengubah prespektif masyarakat tentang kaum difabel.

Hal tersebut disampaikan lantaran banyak orang melihat kaum difabel sebagai kaum yang kekurangan dari segi fisik. Seharusnya pemberitaan tersebut memberikan pencerahan untuk mengubah penilaian tersebut.

"Pemberitaan seharusnya lebih mengangkat mereka (kaum difabel) agar mereka lebih bersemangat untuk hidup, berproduksi, dan lebih berinovasi," ucapnya.

Lanjutnya, media perlu memberitakan menggunakan prespektif disabilitas berdasarkan human interest, meneropong, memperjuangkan kebijakan yang berpihak kepada kaum disabilitas, guna memenuhi hak-hak mereka agar tercapai kesetaraan dalam masyarakat.

Ia berharap ke depan pihak akademisi maupun kaum difabel turut berperan dalam mengontrol pemberitaan di media.

Begitu pula dengan  pihak pemerintahan di NTT, harus memberikan perhatian khusus bagi kaum difabel. "Saya sarankan untuk selenggarakan workshop media bekerja sama dengan  penyandang disabilitas, kampus dan juga gereja guna membahas pemberitaan yang berpihak kaum difabel," katanya.(*)

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com